RSS

APPLE LOVE Part 4 (End of Part)


Title : Apple’s Love

Author : Nurul "Eunhwa"

Genre: Romance, comedy(maybe)

Cast : Micky ‘Park Yoochun’

Shin Eunhwa

Kim MinAh

Su Hye In, dll



Sekarang wanita itu bergabung bersama kami. Tadi aku sempat berkenalan dengannya, dan tampaknya dia cukup ramah. Namanya Su Hye In, aku mengakui senyumnya sangat manis, para pria pasti akan luluh kalau melihat senyumnya. Dia duduk di antara kami, tepatnya di sebelah kanan Yoochun. Mereka asyik bernostalgia, sedangkan aku hanya memandangi mereka sambil sesekali tersenyum kalau ada yang lucu atau ketika mereka melihat ke arahku. Lalu tiba-tiba ponselku berbunyi, ternyata Min Ah mengirimiku pesan yang menanyakan apa aku sedang bersama Yoochun sekarang, aku langsung menggunakan kesempatan ini.

“Err maaf. Sepertinya aku harus pergi sekarang.”

“Min Ah baru saja memberitahuku kalau dia sedang ada di rumah, jadi aku harus pulang sekarang.” Aku menjelaskan pada Yoochun.

“Kalau begitu aku akan mengantarmu.” Yoochun hendak berdiri tetapi aku langsung menahannya.

“Andwe, kau di sini saja. Pasti masih banyak hal yang ingin kalian bicarakan, kalian kan sudah lama tidak bertemu. Aku bisa pergi sendiri.” Aku tersenyum, meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.

“Baiklah, tapi telepon aku kalau kau sudah sampai di rumah.” Pintanya, diikuti anggukanku.

“Annyeong gyeseyo.” Aku membungkukkan sedikit badanku lalu segera keluar dari restoran. Aku sempat menoleh melalui kaca yang menyerupai dinding itu, dan bertemu pandang dengan Yoochun, aku kemudian melemparkan senyumanku sebelum benar-benar menghilang dari situ.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Salju terlihat menutupi beberapa dahan pohon yang aku lewati di jalan. Ya, ini sudah minggu ke dua di musim dingin. Aku baru sadar kalau sekarang aku sudah melewati satu musim dengan Yoochun, yeah kami bertemu di musim gugur dan sejak itu kami sering bersama. Mungkin aku juga sudah semakin yakin dengan apa yang kurasakan saat ini. Aku mendesis, memangnya apa yang aku rasakan?

Aku melangkahkan kakiku pelan menyusuri jalan, menikmati ketenangan yang aku rasakan. Aku berhenti di depan sebuah taman, banyak pasangan yang sedang duduk maupun sekedar berkeliling di taman itu. Taman itu juga terlihat romantis karena banyak lampu kecil yang kerlap-kerlip dikaitkan di tiap dahan pohon yang ada di situ. Aku memilih untuk duduk sebentar di salah satu bangku taman. Aku duduk bersandar dan mengayunkan kakiku, menutup mata dan menghirup dalam-dalam oksigen yang terhambur bebas di udara, dan mencium aroma udara malam yang sangat aku gemari. Aku selalu suka dengan udara malam, udara malam mempunyai bau yang khas dan menyejukkan. Aku sampai tidak sadar kalau ada seseorang yang duduk di sebelahku sampai dia menawariku cokelat panas. Aku langsung menoleh,

“Yoochun?” Aku terkesiap, benar-benar kaget kenapa dia bisa muncul di sini. Dia tersenyum lalu memberiku segelas cokelat panas, aku mengambilnya dan menggenggamnya, membiarkan hangatnya mengalir sebentar di kulitku yang dingin.

“Yaa kau bilang kau akan pulang, tapi kenapa malah di sini?” katanya lembut.

Aku memalingkan wajahku ke depan, malu. “Habis ini aku akan pulang kok. Aku hanya mampir sebentar karena capek berjalan. Ah tiba-tiba kakiku sakit, iya kakiku sakit.” Jawabku asal.

“Cih.” Dia meminum cokelatnya, aku mengikutinya.

“Mau jalan-jalan sebentar?” Aku menoleh, mengiyakan. Lalu tiba-tiba dia berdiri didepanku, membelakangiku dan agak membungkukkan badannya.

“Naiklah.”

“M-mwo?” tanyaku heran.

“Ya, naiklah. Tadi kau bilang kalau kakimu sakit kan? Naiklah, aku akan menggendongmu.”

“Ne? A-ani, aku bisa..” Dia tiba-tiba menarikku ke punggungnya. Akhirnya mau tidak mau aku harus mau. Ragu-ragu aku naik ke punggungnya.

“Ternyata kau lebih berat daripada yang terlihat.” Aku memukul pelan bahunya.

“Yaa, kalau begitu turunkan saja aku.” Dia tertawa.

“Kau memang berat, tapi aku tidak mungkin tidak bisa menggendongmu, aku kan kuat.” Ujarnya bangga, aku hanya mendesis.

“Oh ya, kenapa kau bisa di sini? lalu Hye In?”

“Setelah kau pergi, ada yang datang menjemputnya. Aku kemudian memutuskan untuk ke rumahmu saja, tapi aku malah melihatmu duduk di taman. Untung saja aku menoleh, kalau tidak aku pasti tidak melihatmu.” Aku hanya mengangguk, kemudian ada hening sesaat. Aku memutuskan untuk diam saja. Namun Yoochun ternyata berpikiran lain,

“Dia, Su Hye In, mantan yeoja chinguku sewaktu di SMA. Tapi kami tidak pernah berhubungan lagi sampai hari ini. Dia…”

“Kau tidak perlu menjelaskannya padaku, itu tidak ada hubungannya denganku.” Kataku datar, dia menolehkan wajahnya berusaha melihatku.

“Waeyo?” Aku memiringkan kepalaku.

“Jeongmal?” Tanyanya, aku menegakkan kembali wajahku ke depan.

“O lihat, ada kembang api di sana.” Aku menunjuk ke arah depan toserba, di sana ada sekelompok remaja yang sedang bermain kembang api. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Yoochun sedang menatapku.

“Kita pulang sekarang?”

“Joha.”

>>


“Yaa! Kenapa kemarin kau tidak membalas pesanku?” Min Ah langsung duduk di sebelahku, saat ini dosen tidak jadi masuk makanya kami sedang tidak melakukan apa-apa.

“Kemarin aku lupa membalasnya, mianata.” Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan ke luar, Min Ah mengikutiku.

“Hmm kau pasti sibuk sekali ya dengan Yoochun, sampai-sampai membalas pesanku saja tidak bisa.” Min Ah menyenggol lenganku, aku hanya berhenti menatapnya sebentar lalu berjalan lagi.

“Aku salah ngomong ya?” Min Ah berusaha mengejarku.

“Ani.”

“Lalu, ada apa?”

“Ani.” Kini kami duduk berhadapan di kantin. Aku memesan jus apel, dan Min Ah memesan soda.

“Eunhwa~ah.”

“Aku bilang tidak ada apa-apa Min Ah.” Aku menyeruput jusku setelah petugas kantin membawakannya di meja kami.

“Kemarin kami bertemu dengan mantan pacarnya Yoochun sewaktu di SMA.” Kataku akhirnya.

“Mwo? Jinja?” Min Ah kini melotot padaku.

“Keure. Kau tahu, dia wanita yang sangat cantik. Senyumnya juga manis sekali, aku saja yang sesama wanita menyukainya.” Lalu tiba-tiba Min Ah tertawa keras sekali. Aku saja sampai kaget.

“Waeyo? Kau kenapa?” Tanyaku heran.

“Jangan bilang kalau kau cemburu Eunhwa.” Dia tertawa lagi. Aku diam sesaat, berusaha mencerna kata-katanya.

“Mwo? Apa yang kau katakan?” Wajahku memerah.

“Benarkan. Sekarang wajahmu merah Eunhwa.” Dia tertawa semakin keras.

“Akhirnya kau memang benar-benar menyukainya.” Min Ah mencubit pipiku.

“Kau mau mati hah?”

“Sudah saatnya kau harus jujur pada dirimu sendiri.”

“Kau tidak mungkin terus-terusan membohongi perasaanmu Eunhwa.” Aku menatap lekat mata Min Ah, tampaknya dia serius dengan apa yang di katakannya.

“Aku mau pulang saja. Aku mau mengerjakan tugas yang belum selesai. Bye Min Ah.” Aku tersenyum padanya dan meninggalkannya yang masih bingung dengan kepergianku yang tiba-tiba.

>>


Aku menunggu Yoochun di depan bioskop, dia sudah berjanji akan mengajakku nonton malam ini. Tapi sudah setengah jam berlalu dia belum muncul juga. Aku sudah resah menunggunya, setengah jam kemudian dia masih belum muncul, padahal filmnya sudah mulai diputar sekitar sepuluh menit yang lalu. Tiba-tiba ponselku berdering, aku melihat nama Yoochun yang muncul di layar.

“Eunhwa~ah mianhata. Aku tiba-tiba tidak bisa menepati janjiku, ada urusan yang sangat mendesak yang tidak bisa kutinggalkan. Jeongmal mianhata.” Dia langsung bicara ketika aku mengangkat teleponnya. Tadinya aku berniat akan marah-marah, tapi langsung kuurungkan niatku.

“Apa sangat penting?” Tanyaku hati-hati.

“Y-ya, sangat penting untukku. Mohon kau jangan marah, akan aku ganti dihari lain. Bagaimana?”

“Kau tidak perlu kuatirkan aku kalau itu memang sangat penting. Gwaenchana.”

“Benarkah? Aku janji akan menggantinya di hari lain. O, aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu ya.” Dia memutuskan telepon, tampaknya dia sedang ada pekerjaan sekarang. Akhirnya aku memutuskan keluar dari bioskop. Tapi dipintu masuk aku bertemu dengan Junsu dan Changmin, mereka langsung menyapaku. Yeah, aku sudah pernah bertemu dengan mereka sebelumnya saat sedang makan siang di sebuah rumah makan, Yoochun mengenalkan mereka semua padaku. Kesan pertamaku pada Junsu oppa adalah, dia orang yang sangat baik dan tulus. Changmin oppa sangat manis juga sangat menghormati semua hyungnya, aku dan dia hanya terpaut beberapa bulan. Aku kaget melihat Jae oppa yang ternyata cantik tapi dia cowok banget kok, dan Yunho oppa yang terlihat sangat kharismatik. Hanya Yoochun yang tidak aku panggil oppa, entahlah aku hanya merasa aneh memanggilnya begitu. Awalnya dia keberatan karena katanya aku tidak adil, tapi lama-lama dia tidak memusingkannya lagi, katanya “Biarlah, aku kan beda dari yang lain, iakan jhagiya?” saat itu aku langsung menjitak kepalanya. Aku senang bisa kenal dengan mereka, mereka semua sangat baik dan bersahabat, aku juga tidak canggung kalau bersama mereka, mereka senang bercanda.

“Eunhwa~sshi sedang apa kau disini? Mana Yoochun hyung?” ujar Junsu setelah dia menundukkan sedikit kepalanya.

“Ne? Tadi dia menelponku membatalkan janji kami. Katanya ada urusan, dia tidak bersama dengan kalian oppa?”

“Aniyo, urusan? Tadi dia pamit katanya akan bertemu denganmu hari ini. Kami tidak ada jadwal hari ini.”

“Oh, mungkin dia punya urusan lain. Baiklah, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa.” Aku lalu keluar dari bioskop menuju mall setelah berpamitan dengan mereka berdua, aku memang berniat membeli beberapa barang hari ini, karena tidak ada Yoochun jadi tidak ada yang menemaniku, aku juga malas kalau harus menelpon Min Ah lagi.

Aku sedang memilih baju ketika mataku tertuju pada seseorang di stand perhiasan di depan. Tidak, tepatnya sepasang, itu Yoochun, dan.. Su Hye In? Aku terpaku ditempatku, aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat, jadi ini yang dimaksudkannya “urusan yang penting?” aku mendesis. Aku melangkahkan kakiku berniat menghampiri mereka, tapi langsung kuurungkan niatku, lebih baik untukku kalau aku meninggalkan tempat itu sekarang juga. Aku langsung meletakkan baju yang sedang aku pegang tadi, dan meminta maaf pada petugasnya karena tidak jadi membelinya dan segera pergi dari tempat itu.

Entahlah, aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir turun dipipiku, aku juga merasa dadaku seperti terhimpit sesuatu, begitu sesak. Aku tidak tahan lagi, aku tidak ingin terlihat seperti ini. Aku segera berlari keluar dan menyetop taksi yang kebetulan lewat didepanku.

>>

Ini sudah jam dua malam tapi mataku sepertinya tidak berniat untuk menutup. Aku sudah beberapa kali bolak balik ditempat tidurku. Ponselku yang kuletakkan di meja di samping tempat tidur sudah berhenti berdering daritadi, yeah sejak jam sepuluh malam tadi ponselku terus berdering tanpa henti. Aku sudah bisa menebak siapa yang terus membunyikannya, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk menyentuh ponselku. Nanti setelah jam menunjukkan pukul tiga pagi baru mataku bisa menutup dengan sempurna.

>>


Aku mulai tersadar setelah aku merasakan seseorang menggoyang-goyangkan kakiku. Begitu aku membuka mata aku langsung menyipitkannya lagi, begitu silau, jam berapa sekarang? Aku langsung terduduk ditempat tidurku.

“Yaa Eunhwa, sudah berapa lama kau tidur hah? Ini sudah jam 11 pagi!! Dan kau kehilangan dua jam mata kuliah tadi! Aku baru saja akan menyiramimu air kalau kau tidak bangun-bangun juga.” Bisa kulihat Min Ah sedang memegang gelas yang berisi air sekarang.

“Kita tinggal lima bulan lagi Eunhwa, apa kau mau terlambat diwisuda? Dan kenapa pintu rumahmu tidak terkunci waktu aku datang tadi? Jangan bilang kalau semalaman pintu rumahmu tidak terkunci!” Aku memegang kepalaku, agak berat.

“Gwaenchanayo?” Min Ah meletakkan gelasnya di meja, dan duduk menghadapiku, raut wajahnya jelas sekali kalau ia khawatir padaku. Aku hanya diam.

“Eunhwa, apa yang terjadi? Kau bisa menceritakan semuanya padaku.”

“Molla, aku juga tidak mengerti.” Tiba-tiba ponselku berdering, aku dan Min Ah sama-sama menoleh kearah sumber suara. Kemudian Min Ah bangkit berdiri mengambil ponselku dan menyerahkannya padaku.

“Yoochun.” Aku sempat memandangnya kemudian pelan-pelan mengambil ponselku dari tangannya. Ragu-ragu aku menekan tanda on.

“Yoboseo. Eunhwa~ah gwaencahanayo? Kenapa semalam kau tidak mengangkat teleponku? Aku berkali-kali menghubungimu dan mengirimimu pesan, tapi tak ada yang kau balas satupun. Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?” aku mendesis, tersenyum kecut.

“Mianhae, semalam aku lupa menaruh ponselku dimana.” Aku merasakan Min Ah menatapku sekarang.

“Oh baguslah, aku kira sesuatu terjadi padamu. Aku sangat khawatir kau tahu.”

“Umm, aku ingin minta maaf lagi soal yang kemarin, aku dengar kau bertemu dengan Junsu dan Changmin yah, mereka….”

“Aku sedang tidak ingin bicara sekarang Yoochun, aku merasa sangat lelah.” Aku memotong pembicaraan Yoochun.

“Jeongmal gwaencanayo?” nada suaranya terdengar khawatir.

“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya…. Merasa tidak enak badan sedikit.”

“Apa kau sakit? Aku akan kerumahmu sekarang.”

“Andwe! Ah, maksudku kau tidak usah ke rumahku, aku tidak apa-apa. Ingat, kau tidak usah ke rumahku. Sudah ya, aku ingin istirahat.” Aku memutuskan telepon. Dan aku melihat 16 panggilan tidak terjawab dan lima pesan masuk. Isinya dari Yoochun semua. Aku lalu menutup ponselku dan melemparkannya ke sebelahku. Aku mengalihkan mataku ke arah Min Ah yang sedang menatapku.

“Waeyo? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau begini? Kau juga tampak kusut sekali.” aku berbaring lagi dan meletakkan lenganku dikepalaku.

“Entahlah Min Ah, aku juga tidak paham. Rasanya hatiku sesak.”

“Apa Yoochun yang membuatnya begitu?” lama baru aku mengangguk, mengiyakan.

“Benarkan apa kataku, kau menyukainya, aku tahu yang kau rasakan.”

“Sudahlah Min Ah, aku tidak ingin mendengarnya.” Aku memalingkan wajahku.

“Kau tidak perlu mendengar apa-apa dariku, kau hanya harus jujur pada dirimu sendiri.”

“Kau tidak akan begini kalau kau jujur pada dirimu sendiri Eunhwa.” Aku hanya diam, kemudian aku memutuskan untuk menceritakannya pada Min Ah. Aku duduk ditempat tidur dan menyilangkan kedua kakiku, kemudian aku menceritakannya dengan rinci.

“Apa yang kau lihat itu betul dia?”

“Aku tidak mungkin salah Min Ah! Aku melihatnya dengan sangat jelas! Mataku tidak rabun!” aku menatap Min Ah kesal.

“Baiklah, kalau itu memang benar, dia sangat keterlaluan. Tapi apa kau tidak ingin meminta penjelasan darinya?”

“Untuk apa? Toh dia bukan siapa-siapaku.” Aku mengalihkan pandanganku, bibirku agak pahit mengucapkannya. Tiba-tiba aku mendengar pintu rumahku diketuk seseorang. Kami langsung berpandangan.

“Min Ah, tolong kau bukakan pintu. Kalau itu Yoochun bilang saja aku sedang istirahat dan aku tidak ingin diganggu siapapun, minta dia untuk pulang saja.”

“Eunhwa…”

“Aku minta tolong padamu sekali ini saja. Tolong aku, aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya.” Min Ah menatapku sebentar kemudian dia keluar, aku langsung menutup pintu kamarku, dan berdiri di balik pintu, mencoba mendengarkan.

“O, Min Ah kau disini? Bagaimana Eunhwa? Apa dia sakit?” suara Yoochun terdengar khawatir.

“Dia baik-baik saja, dia hanya sedikit tidak enak badan. Dan tidak ingin diganggu.” Ada jeda sesaat sebelum Min Ah mengucapkan itu.

“Apa dia tidak ingin aku menemuinya?”

“Dia tidak ingin bertemu siapa-siapa Yoochun~sshi, katanya dia ingin istirahat. Kalau kau masuk sekarang, kau hanya akan menganggunya, dia sedang tidur saat ini.”

“Bisakah aku melihatnya? Hanya melihatnya supaya aku bisa tenang.” Min Ah diam sesaat.

“Baiklah, tapi hanya melihatnya dan hanya sebentar.” Aku langsung berlari ke tempat tidurku, memperbaiki poseku agar terlihat tertidur sungguhan. Dalam hati aku mengutuki Min Ah. Aku mendengar pintu kamarku terbuka.

“Benarkan, dia sedang tidur.” Sekitar lima menit baru aku mendengar pintu kamarku menutup lagi, tiba-tiba air mataku menetes, aku langsung cepat-cepat menghapusnya. Aku sendiri heran kenapa aku bisa sangat cengeng, padahal sebelumnya aku salah satu wanita yang tidak gampang menangis. Yeah, itu berubah sejak aku bersama Yoochun.

“Dia sudah pergi.” Aku tetap tidak merubah posisiku yang berbaring menghadap sisi sebelah kanan.

“Eunhwa~ah apa kau yakin dengan apa yang kau lakukan?” aku masih tidak menyahut.

“Aku hanya bisa bilang hal yang sama, kau hanya harus jujur pada dirimu sendiri agar kau tidak terluka seperti ini.”

“Apa kalau aku jujur, semua akan seperti yang aku harapkan?” Aku sendiri kaget mendengar suaraku meninggi.

“Setidaknya kau mau jujur, dan mengikhlaskan segalanya Eunhwa. Dengan begitu perasaanmu akan lega, dan kau bisa mengerti bagaimana mencintai seseorang dengan benar, tanpa memaksakan kehendakmu sendiri, dan tidak melukai hatimu sendiri.” Air mataku berlinangan lagi, sulit untuk menahannya. Min Ah mengelus pundakku.

“Ige sarang ingayo? Jeongmal ige sarang ingayo?” aku sedikit terisak.

“Kenapa disaat aku baru merasakan perasaan ini, tapi malah jadi seperti ini?”

“Malang sekali ya cinta pertamaku Min Ah.” Aku tertawa hambar, Min Ah langsung memelukku.

“Kau jangan seperti ini ya, semua akan baik-baik saja. Aku akan meninggalkanmu sendirian untuk memikirkan segalanya. Telepon aku kalau ada apa-apa. Jangan berbuat macam-macam.” Aku menghapus air mataku.

“Wae? Kau kira aku akan bunuh diri karena masalah ini?” aku tertawa pelan.

“Aku tidak akan, yang benar saja. Hhh, aku jadi cengeng ya.”

“Gwaenchana. Menangis adalah cara seorang perempuan mengekspresikan perasaannya.” Min Ah tersenyum lembut padaku dan menghapus air mataku.

“Gomawoyo Min Ah, aku tidak tahu akan bagaimana kalau tidak ada kau.”

“Makanya hubungi aku kalau ada apa-apa. Baiklah aku pulang ya, jaga dirimu, jangan lupa makan.” Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Lama aku terduduk ditempat tidurku sebelum aku memutuskan untuk mandi menyegarkan badanku.

>>

“Yoboseo.”

“Yoboseo. Min Ah , aku memutuskan akan mebicarakan semuanya pada Yoochun. Aku sudah memikirkannya matang-matang dari kemarin. Aku akan jujur padanya, termasuk soal perasaanku. Setelah aku bicara aku tidak akan mengganggu hidupnya lagi, aku sadar aku memang tidak pantas untuknya.”

“Apa kau sudah yakin dengan yang kau katakan?”

“Aku benar-benar harus mengakhirinya. Aku tidak suka kalau dibayang-bayangi seperti ini.”

“Terserah padamu, aku hanya bisa mendukungmu. Jadi kapan kau akan bicara dengannya?”

“Malam ini.”

“Malam ini? Apa itu tidak terlalu cepat?”

“Memangnya apa yang aku tunggu? Aku benar-benar sudah lelah, aku ingin cepat-cepat mengakhiri ini semua.”

“Baiklah kalau memang kau berpikir begitu. Lebih cepat juga lebih baik untukmu agar bisa melupakannya.”

“Yeah, kau benar. Baiklah, sudah ya. Aku akan mempersiapkan diriku untuk malam ini.”

“Baiklah, semoga beruntung Eunhwa, hwaiting!”

>>


Aku sangat gugup saat ini, aku sedang menunggu Yoochun di taman yang sama waktu kami pertama kali bertemu, waktu aku bertabrakan dengannya. Aku menghubunginya dan memberitahunya bahwa aku ingin bertemu di sini. Aku sudah bertekad kalau aku akan mengakhirinya disini dan aku takkan mengeluarkan air mata setetes pun. Aku tidak mau menangis didepannya.

“Yaa Eunhwa~ah, kenapa kau baru menghubungiku hah? Aku sudah hampir gila tidak mendengarmu sama sekali selama satu hari lebih!” Yoochun mencubit pipiku gemas. Aku mengelak, tampaknya dia heran dengan sikapku.

“Aku ingin bicara hal yang serius denganmu. Anjuseyo.” Dia duduk disampingku dengan ekspresi yang bingung.

“Kau serius sekali. Apa ada masalah?” Aku menatapnya tak percaya, ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia sudah melakukan sesuatu dibelakangku. Aku mendesis.

“Yeah, mungkin masalah kecil bagimu tapi bagiku ini masalah besar, sangat besar.”

“Malhaebwa. Aku akan mendengarnya.” Aku menatapnya lagi, kali ini benar-benar muak.

“Yaa!! Kenapa kau bersikap seperti tidak apa-apa sih? Hhh membuatku gila!” Aku kehilangan kendali, dadaku seperti meledak-ledak.

“Apa yang kau bicarakan?” tanyanya bingung.

“Aigoo, kenapa aku harus merasakan ini padamu? Ini pertama kalinya dan kenapa harus kau orangnya? Malangnya aku.”

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti.”

“Aku bingung harus memulainya darimana! Terlalu memusingkan.”

“Dari awal saja. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Eunhwa?”

“Aissh ini gara-gara kau tahu! Hhh benar-benar memalukan! Baiklah aku akan menceritakannya tapi kau jangan tertawa, dan aku harap ini pertemuan kita yang terakhir!” Tampaknya dia kaget dengan apa yang aku katakan.

“Sejak aku bertemu denganmu, semuanya berubah.”

“Berubah?”

“Jangan menyelaku! Dengarkan saja sampai aku selesai!”

“Baiklah, aku jadi takut padamu, kau jadi galak sekali.” Aku memelototinya, dan dia mengisyaratkan seperti menutup rasleting dimulutnya.

“Aku jadi sering membayangkanmu, tiba-tiba tersenyum sendiri, dan selalu gelisah menunggu telepon atau pesanmu.” Wajahku mulai panas lagi, aku melihat ekspresi mukanya berubah.

“Aku rasa aku mulai bergantung padamu, dan yeah akhirnya lama-lama aku mulai menyadari perasaan itu. Aku sering memandangi pot kecil berbentuk apel yang kau belikan waktu jalan-jalan kita yang pertama. Kau masih ingat? Aku terus memikirkanmu, selalu tidak sabar menunggu kapan kita akan bertemu lagi. Dan aku mulai tahu bagaimana rasanya kangen pada seseorang yang kau sayangi.”

“Awalnya aku berpikir kau merasakannya juga, seperti yang dikatakan Min Ah padaku, tapi sepertinya aku salah.” Aku menunduk dan tersenyum kecut.

“Kenapa kau beri harapan kosong padaku?”

“Aku tidak…”

“Aku melihatmu bersama Su Hye In di mall beberapa waktu lalu, saat kau tiba-tiba membatalkan acara nonton kita karena urusan yang kau bilang begitu mendesak dan sangat penting.”

“Waktu itu….”

“Itu sebabnya malamnya aku tidak mengangkat teleponmu, aku berbohong ketika kubilang aku lupa meletakkan ponselku dimana. Aku hanya tidak ingin berbicara denganmu sementara waktu. Aku merasa terpukul sekali mengetahui kenyataannya seperti itu.”

“Aku jadi sadar kalau.. kalau aku memang tidak cocok untukmu. Yeah dunia kita memang berbeda.” Aku menunduk lagi.

“Eunhwa…”

“Aku akan jujur padamu sekali ini saja.” Aku terdiam beberapa detik, memantapkan hatiku. Aku memberanikan diri menatap matanya.

“Saranghamnida.” Mata kami saling berpautan satu sama lain, matanya terlihat teduh dan aku tidak tahan menatapnya lebih lama lagi. Akhirnya aku memalingkan pandanganku.

“Aku baru pertama kali merasakan ini, jadi maklumi saja kalau aku terlihat konyol, kampungan atau apa kau menyebutnya.” Aku tertawa hambar.

“Aku akan membuang semua bayangan antara kau dan aku. Aku akan berusaha melupakanmu, kau tenang saja.”

“Ini adalah pertemuan terakhir kita, aku harap kau tidak akan terganggu dengan kehadiranku lagi. Kau bisa pergi dengan orang yang kau sayangi.” Aku berdiri dari tempat dudukku. Tapi tiba-tiba Yoochun tertawa, aku menatapnya heran. Dia tertawa keras sekali, aku merasa seperti dipermainkan.

“Aku sudah melarangmu tertawa! Aku serius. Apa kau kira ini lelucon?” Aku tidak percaya dia masih tertawa.

“Aku akan pergi sekarang juga, mohon kau jangan mencariku. Selamat tinggal.” Aku berbalik meninggalkan dia yang masih duduk. Lalu tiba-tiba Yoochun memelukku dari belakang, aku tertegun, terdiam beberapa detik. Jantungku mulai berdetak cepat, tapi aku sudah tidak mau terjebak dalam suasana seperti ini lagi. Aku berusaha mengelak melepaskan pelukannya tapi dia malah menarikku lebih erat, aku bisa merasakan desahan nafasnya ditelingaku.

“Babo! Dasar orang bodoh.” Kami sama-sama terdiam beberapa saat.

“Kau ini memang orang yang bodoh sekali.” Aku rasa dia tersenyum.

“Lepaskan aku.”

“Aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan pernah.” Dia memelukku lebih erat lagi. Perasaanku jadi campur aduk sekarang.

“Apa yang kau lakukan? Aku rasa orang-orang mulai memerhatikan kita Yoochun.” Aku melihat beberapa orang yang lewat didepan kami menoleh.

“Aku tidak peduli dengan orang-orang itu. Aku hanya peduli padamu saat ini.”

“Kenapa kau bisa berpikiran bodoh seperti itu hah? Kau ini sok tahu sekali padahal sama sekali tidak tahu apa-apa.” Saat ini aku hanya bisa diam mendengarkan, aku sama sekali tidak bisa bergerak, Yoochun mengunciku dalam pelukannya.

“Apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku tidak mendengar kabarmu sehari saja?”

“Siapa bilang aku tidak merasakan hal yang sama? Aku juga selalu memikirkanmu setiap saat, selalu menunggu kapan aku bisa bertemu lagi denganmu, selalu gelisah kalau aku tidak menghubungimu. Aku juga selalu kangen kalau tidak sedang bersamamu, selalu mengingat senyummu yang riang itu. Aku sangat menyukai senyummu dan caramu tertawa, kau benar-benar membuatku selalu ceria Eunhwa.” Aku rasa pipiku mulai basah lagi, padahal sudah susah payah aku tahan.

“Kau sangat bodoh kan?” Yoochun menyandarkan dagunya dibahuku, menyandarkan kepalanya di kepalaku dan memelukku lebih erat lagi.

“Kau tidak kreatif! Itukan kata-kataku.”

“Aku tidak ingin kehilanganmu Eunhwa~ah. Tolong jangan tinggalkan aku, jangan pergi dariku seperti itu. Siapa bilang dunia kita berbeda? Kita masih tinggal di planet yang samakan? Di tanah yang sama? Di langit yang sama?” Aku terdiam beberapa detik.

“Aku masih belum percaya dengan apa yang kau katakan.” Yoochun merenggangkan pelukannya dan membalikkan tubuhku menghadapnya.

“Kau tidak percaya?” aku menggeleng. Dia mengalihkan pandangannya kemudian duduk dengan salah satu lututnya menyatu di tanah. Aku langsung mundur selangkah, kaget dengan yang dilakukannya. Tapi dia malah meraih sebelah tanganku dan menarikku lebih dekat.

“Yoochun~ah apa yang kau lakukan? Cepat berdiri.” Aku mulai khawatir. Tapi dia tenang-tenang saja dan malah tersenyum. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sesuatu berbentuk apel tapi agak kecil, sepertinya terbuat dari kayu. Bentuknya sangat mirip apel, awalnya aku juga mengira kalau itu adalah buah apel, sampai ketika dia membuka sisi atasnya, aku tercekat. Aku menutup bibirku dengan tangan yang satunya, isinya sebuah cincin yang luar biasa cantiknya. Cincin itu sangat sederhana tapi sangat cantik dihiasi berlian-berlian kecil membentuk buah apel di tengahnya.

“Eunhwa~ah apa kau mau menjadi wanitaku, selamanya?” air mataku menetes lagi, kali ini sama sekali tidak bisa aku bendung. Aku menatapnya lama, mencari ketulusan dalam matanya, dan aku menemukannya, juga kelembutan dan kehangatannya. Kemudian aku mengangguk, antusias. Yoochun lalu bangkit memelukku, sangat erat. Aku balas memeluknya, seolah tidak ingin lepas lagi darinya.

“Mulai sekarang kau tidak bisa kabur dariku lagi. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, arasseo?” aku menggangguk dan menangis dalam pelukannya.

“Padahal aku sudah bertekad tidak akan menangis didepanmu. Aku jadi cengeng sejak bersamamu tahu.” Dia tertawa.

“Gwaenchana, asal kau berjanji air mata kebahagiaanmu itu hanya untukku.”

“Tapi, Su Hye In?” aku melepas pelukannya dan menengadah menatapnya.

“Aishhh kau ini. Dia itu tidak ada hubungannya, dia sudah menikah dua tahun yang lalu. Waktu kau melihatku dengannya aku sedang mencarikanmu cincin, aku meminta bantuannya untuk memilihkannya untukmu. Kenapa harus hari itu? Karena besoknya dia sudah harus kembali ke London bersama suaminya. Sudah mengerti?”

“Mwo? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau dia sudah menikah?” aku meninju pelan dadanya.

“Waktu itu aku mau memberitahumu, tapi kau malah memotong pembicaraanku. ‘Kau tidak perlu menjelaskannya padaku, toh tidak ada hubungannya denganku’ masih ingat?” Yoochun mengutip perkataanku waktu itu. Dia menyundul kepalaku pelan.

Aku mengalihkan pandanganku “Oh yang itu. Mianhaeyo aku sudah salah paham padamu. Aku jadi malu karena sudah salah sangka.”

“Yaa kalau tahu begini aku tidak akan mengatakan semuanya tadi. Aisshh benar-benar memalukan.” Aku menutup wajahku yang merah dengan kedua tanganku. Aku membuatnya tertawa lagi.

Dia menarik tanganku dan menatapku dalam. “Kau tidak perlu malu Eunhwaku. Aku senang kau mengatakan semuanya padaku, jangan ada yang disembunyikan lagi. Arasseo?”

“Arasseo.” Yoochun mencium dahiku lembut dan dalam, kemudian aku memeluknya lagi. Aku benar-benar lega semuanya berakhir bahagia, aku sangat sangat bahagia sekarang. Aku seperti tidak mau melepaskan pelukanku.

“Oh ya, kotak apelnya lucu sekali. Untukku ya?”

“Shiro.”

“Yoochun~ah buatku saja. Aku menyukainya, sangat lucuu. Kau sudah sengaja membentuknya seperti apel masa kau tidak mau memberikannya padaku.”

“Baiklah, sagwaku” Yoochun menarik pelan hidungku dengan gemas kemudian menyerahkannya padaku. Aku mengambilnya dengan riang seperti seorang anak kecil yang baru saja diberi hadiah.

“Gomawoyo. Lihat lucu sekalikan.” Dia tersenyum manis sekali.

“Kita pulang?”

“Kaja. Tapi gendong aku lagi.” Aku tersenyum jail.

“Mwo? Aduh kakiku sakit.” Dia memegang kakinya.

“Aaa kau jangan bercanda. Aku tahu kau hanya pura-pura. Cepat gendong aku.”

“Aku rasa kau mulai manja sekarang. Kau hanya boleh seperti ini didepanku saja, kau tahu?”

“Ara. Makanya cepat gendong aku. Ppali ppali.” Aku menekan bahunya kebawah menyuruhnya menunduk.

“Baiklah, tapi aku ingin mendengar lagi yang kau katakan tadi.” Pipiku langsung memerah lagi.

“Mwo? Shiro! Kalau begitu aku jalan saja.” Aku berjalan mendahuluinya.

“Jhagiya aku ingin mendengarnya lagi. Ayo katakan sekali lagi.” Dia merangkulku. Aku lalu melepas tangannya.

“Shiro! Aku tidak mau, sudah kubilang tadi kalau aku hanya akan mengatakannya sekali!” aku melipat kedua tanganku. Tiba-tiba Yoochun berhenti merendah didepanku dan menarikku kepunggungnya, aku langsung berteriak karena kaget dan belum siap saat dia sudah berdiri lagi dan berlari.

“Yoochun~ah aku bisa jatuh!!!”

“Tidak akan, aku tidak akan membiarkanmu jatuh Apelku sayang!”


THE END


Vocab:

1. Andwe= jangan/tidak boleh

2. Annyeong gyeseyo=selamat tinggal (diucapkan oleh orang yang akan pergi)

3. Yaa!=hei!

4. Mwo?=apa?

5. Ani/aniyo=tidak

6. Ne=ia, kalau diikuti ‘?’ bisa berarti ‘apa?’

7. Yeoja chingu=pacar

8. Wae/Waeyo?=kenapa?

9. Jeongmal= sungguh, benar. Kalau diikuti ‘?’ sungguh? Atau benarkah?

10. Kaja= ayo pergi

11. Ige sarang ingayo?= apakah ini cinta?

12. Arasseo= aku mengerti

13. Gwaenchana=tidak apa-apa

14. Anjuseyo=silahkan duduk

15. Shiro=Tidak mau

16. Sagwa=apel

17. Yeobo/jhagiya=sayang

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar