RSS
Tampilkan postingan dengan label Karyakuu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karyakuu. Tampilkan semua postingan

On The Rainy Day


Annyeong :)) aku datang membawa ff baru niii X)) happy read aja yahh


Title: On Rainy Day

Cast: Yong Junhyung

Lee Chaeyeon

Genre: Sad Romance(?)

Aku masih duduk disini. Bahkan disaat orang-orang sudah meninggalkan tempat ini beberapa waktu yang lalu. Aku masih mencoba menyusun semua ingatan di kepalaku, hanya berharap bahwa semua ini hanya mimpi. Tapi kenapa aku tak kunjung sadar juga? Tak cukup kah rasa sakit ini menyadarkanku? Ini lebih dari sakit jika dibandingkan dengan cubitan dilengan, tapi kenapa aku tak kunjung bangun juga? Kenapa?

Yeah, ini bukan mimpi. Ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan yang harus aku hadapi. Kenyataan pedih yang tetap harus ku terima walaupun aku menolaknya. Bahkan hujan ini pun tidak sanggup mengenyahkan kepedihan yang terlalu menyesakkan ini.

Aku mencoba bangkit dari tempatku, didepan pusara putih bersih ini. Masih terletak beberapa rangkaian bunga disampingnya, menandakan kalau kuburun ini masih baru. Tempat peristirahatannya yang baru.

Air mata kesedihan ini sudah tidak bisa dibedakan lagi dengan air hujan yang membasahi wajahku sekarang. Seolah langit juga turut menangis untukku.

***

10 Januari 2011


Namja ini benar-benar membuatku tidak bisa berfikir jernih! Yang dilakukannya selalu membuatku tepukau! Lihat saja jari-jari panjangnya itu yang sedang bermain diatas tuts piano. Aku sampai ingin meraih kameraku dan mengambil gambarnya sekarang!

Otteohke? Apa lagunya bagus?” Yah, permainanmu sangat bagus Junhyung~ah. Tidak, semua yang kau lakukan selalu bagus di mataku.

“Chaeyoen~ah apa kau mendengarku?” Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, astaga kenapa sampai melamun juga? Kau benar-benar payah Lee Chaeyoen!

“A, ya tentu aku mendengarmu. Permainanmu sangat bagus. Kau pandai sekali bermain piano Yong Junhyung.” Aku melihat alisnya bertaut. Semoga dia tidak menyadari kalau aku benar-benar melamun tadi.

“Chaeyeon~ah apa kau sedang ada masalah? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Aku menaikkan kedua alisku. Apa dia tahu kalau tadi aku melamun? Aishh kau benar-benar mempermalukan dirimu Chaeyeon.

Aniyo. Amugotdo ani. Kenapa kau bertanya begitu?”

“Tadi aku bilang ‘bagaimana lagunya?’ tapi kau malah mengomentari caraku bermain piano. Kau sedang melamun kan? Apa ada yang tidak beres?” Ahh ternyata dia menyadarinya. Na baboya.

“Ah na jeongmal gwaenchana. Maaf kalau tadi aku melamun. Aku hanya.. hanya…”

“Hanya?” Aishh apa yang harus aku katakan sekarang? Aku berpikir keras selama beberapa detik.

“Hanya lapar!” Kataku hampir setengah berteriak. “Haha ya, aku hanya lapar. Tadi aku belum sempat makan siang.”

“Kau belum makan siang? Neo michyeoseo? Kalau kau sakit bagaimana? Kau kan punya penyakit maag! Sekarang kita cari makan siang dulu.” Tanpa aba-aba Junhyung langsung menarik tanganku. Aku hanya bisa mengikutinya dengan patuh, siapa suruh sudah membohonginya.

Aku menatap tangannya yang mengenggam erat tanganku. Seandainya bisa begini selamanya Junhyung~ah.

22 Januari 2011


“Junhyung~ah aku sudah capek. Kita istirahat sebentar yah.” Aku merebahkan kepalaku di atas buku matematika yang sudah sangat membuatku lesu itu. Junhyung memang tergolong anak yang pintar matematika, sedangkan aku? Hhh aku jadi merasa tidak cocok jika disandingkan dengannya. Tapi tidak juga. Ada Junhyung yang pintar dan aku yang bodoh, bukankah pasangan itu saling melengkapi satu sama lain? Hahaha. Ouww aku merasakan dahiku di timpuk sesuatu.

“Itu sakit tahu!” Kataku kesal sambil mengelus-elus dahi yang kena pukulan mistar tadi. Dia benar-benar berhasil membawaku ke alam nyata!

“Itu hukuman buatmu karena sifatmu yang malas itu. Kau masih harus menyelesaikan sepuluh soal lagi baru bisa istirahat.” Aku menghela nafas pelan. Mwo? Sepuluh soal? Namja ini benar-benar ingin membunuhku. Aku kan tidak suka mate-matematika. Aku hanya bisa memanyunkankan bibirku karena kesal.

“Kau mau lulus dengan nilai yang baik kan?” Aku menggangguk. “Kau mau masuk Universitas S denganku kan?” Aku mengangguk lagi.

“Makanya kau harus belajar dengan giat. Jangan malas-malasan terus.” Sekarang dia sudah seperti ibu-ibu yang sedang mengomeli anaknya.

Arasseo arasseo. Sudah belajar lagi, jangan bicara terus.” Aku mengambil ballpointku dan berusaha serius kembali. Tapi dia malah mencubit pipiku.

Yaa~ neo micheoseo ? Sakit tahu!” Aku mengelus-elus pipiku. Aku tahu pipiku tembem dan selalu berhasil membuat orang gemes padaku, tapi tidak usah dicubit dan ditarik seperti itu bisakan.

“Itu hukuman karena kau sudah memarahiku. Sudah, lanjut belajarnya.” Aku melihatnya tidak percaya. Aisshhh anak ini benar-benar! Aku menggiggit bibir bawahku dengan emosi.

25 Februari 2011


“Kyaaaa kita lulus Junhyung~ah. Aku lulus! Kau lulus!” aku lompat-lompat kegirangan setelah membaca pengumuman daftar siswa yang lulus ujian di papan pengumuman depan sekolah. Kami akhirnya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi! Ya. Lee Chaeyeon dan Yong Junhyung. Aku tersenyum senang. Aku bisa bersama Junhyung terus, bukankah ini kabar yang lebih dari sekedar berita baik?

“Tentu saja aku lulus. Aku sudah bisa memprediksinya.” Aku menatapnya sinis, cih tapi tetap saja sifatnya yang sombong itu selalu membuatku kesal. Namun sepertinya rasa kesal itu jauh lebih kecil dari rasa cintaku padanya. Hhh sudah berapa tahun aku memendam perasaan ini padanya? Tanpa tahu apa dia juga menyukaiku atau tidak. Aku tertunduk lesu. Kenapa aku selalu tidak pernah berani mengutarakannya? Kami sudah berteman sejak SD, kebetulan rumah kami hanya dibatasi selokan kecil, tempat aku sering duduk kalau sedang bersedih. Selokannya bersih tentu saja, mana mungkin aku betah duduk berlama-lama kalau ada banyak sampah dan bau busuk bertebaran di sekitarku? Selokan itu kosong, dan tempatnya memang sempurna kalau ingin melihat bintang malam yang sangat indah dan cantik.

“Kenapa kau sedih sekarang? Hmm bagaimana kalau kita merayakannya? Apa kau mau ke warung Samgyupsal?” Aku langsung menengadah dengan cengiran yang lebar. Junhyung memang sangat tahu kalau aku sangat senang makan Sampgyupsal.

Jinjayo? Huaa kau memang yang terbaik Junhyung~ah. Kaja.” Aku langsung berjalan mendahuluinya.

“Kau ini kalau sudah dengar kata Samgyupsal moodmu bisa benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.” Katanya setelah berada di sampingku. Aku hanya bisa memperlihatkan cengiran khasku.

02 Maret 2011


Aku memerhatikan Junhyung yang sedang serius menulis lirik lagu. Sepertinya dia agak pucat, atau ini hanya perasaanku saja? Wajahnya kalau sedang serius sangat jelek, tapi entah kenapa aku malah menyukainya. Haha aku benar-benar sudah tidak waras. Hmm tapi sampai sekarang aku belum bisa menyampaikan perasaanku padanya. Aku harus menyampaikannya, tapi kapan? Kapan aku bisa siap? Ah, kalau kami berdua di terima masuk Universitas S aku akan menyampaikan perasaanku padanya saat itu juga. Tapi kalau tidak diterima? Aku akan tetap menyampaikannya. Hahaha.

Aku menoleh mendengar suara ballpoint yang jatuh, sekarang aku melihat Junhyun memegang kepalanya. Sepertinya dia merasakan sakit, aku bisa melihat wajahnya menegang sekarang. Aku langsung berlari menghampirinya.

“Junhyung~ah wae geure? Kau kenapa? Apa kau sakit?” Junhyung berusaha berbicara padaku, tapi suaranya tertahan. Aku merasakan pipiku basah sekarang, aku sangat panik.

“Junhyung~ah, ada apa denganmu? Aku akan memanggil bantuan.” Aku hendak berdiri, tapi Junhyung menahanku. Dia seolah ingin mengatakan sesuatu, aku mendekatkan diri sambil memegang kedua bahunya. Air mataku masih enggan berhenti menetes.

“Jangan tinggalkan aku sendiri.” Hanya itu yang aku dengar dari mulutnya, yang dengan susah payah dia keluarkan. Dia tiba-tiba tidak sadarkan diri, aku bertambah panik. Aku mengguncang-guncang tubuhnya tapi hanya bisu yang membalas panggilanku.

5 Maret 2011


Ini sudah hari ketiga sejak Junhyung tidak sadarkan diri. Aku tetap menunggu di samping tempat tidurnya, menunggu hingga ia bisa membuka kembali matanya. Menunggu hingga ia bisa kembali mengucap namaku.

“Chaeyeon~ah, kau pergilah bersihkan diri dulu. Kau belum mandi dari pagi tadi. Omoni akan menjaganya disini.” Ibu Junhyung menyentuh pundakku sambil membawakan selembar handuk untukku.

“Nanti saja omoni. Aku masih mau disini.”

“Chayeon~ah kau harus membersihkan dirimu. Kau juga belum makan dari tadi siang. Ibumu tadi menitipkan bekal untukmu, kau harus makan. Ibu tidak mau kalau kau juga ikut-ikutan sakit. Junhyung pasti akan sangat sedih kalau tahu kau tidak mengurusi tubuhmu seperti ini.” Aku berpikir sebentar, lalu mengiyakan ucapan Ibu Junhyung. Aku meraih handuk dari tangannya lalu berjalan ke kamar mandi yang terletak di sisi kiri dekat pintu kamar.


12 Maret 2011


Aku mengatup bibirku dengan kedua tanganku. Seperti tidak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Bulir air mata kini sudah membanjiri wajahku lagi. Aku berjalan dengan pandangan kosong menjauhi kamar bernomor 317 itu. Junhyung menderita Tumor otak? Sejak kapan? Kenapa aku tidak pernah mengetahuinya? Aku menutup kedua mulutku agar suara isakanku teredam.

Kenapa ini terjadi begitu tiba-tiba? Seminggu yang lalu aku masih tertawa bersamanya, dia mengajariku, dia mengerjaiku seperti biasa, membuatku kesal seperti yang seharusnya. Tidak pernah ada tanda-tanda kalau dia sedang mengalami Tumor otak. Aku mencoba mencari petunjuk dalam kepalaku, kalau-kalau ada ingatan yang menunjukkan kalau Junhyung tengah mengidap penyakit. Nihil, aku sama sekali tidak menemukannya, aku benar-benar tidak bisa menemukan bukti kalau Junhyung mengidap sebuah penyakit! Tumor otak.

Aku tertawa miris. Apa benar aku mengenalnya? Apa benar aku mengetahui semua tentangnya seperti perkiraanku selama ini? Apa benar aku menyukainya? Apa benar aku mencintainya? Aku terisak lagi. Junhyung~ah kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku? Apa aku tidak pantas mengetahui rahasia terbesarmu? Apa aku tidak pantas menjadi orang yang berarti untukmu?

“Disini kau rupanya.” Aku tersentak mendengar suara yang begitu familiar ditelingaku. Safar-saraf indraku seolah bisa cepat mengenali suara itu bahkan sebelum aku sempat mengingat. Aku langsung menoleh ke sumber suara itu.

Oh tuhan, mata yang kini menatapku, guratan lemah yang terukir di wajahnya, senyuman manis yang terukir di bibirnya yang pucat. Tanpa perintah apapun aku langsung menghambur ke arahnya, memeluknya dengan segenap kekuatanku yang masih tersisa, mendekapnya dengan perasaan rindu yang membuncah. Tangisanku pecah, bahunya kini basah dengan linangan air mataku. Seolah tidak ingin melepasnya lagi, tidak ingin kehilangan dirinya untuk yang kedua kali.

“Apa kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu bodoh. Kenapa kau tidak ada disampingku?”

“Apa kau tidak menungguku? Aku kecewa padamu Lee Chaeyeon.”

“Pada saat aku membuka mata kenapa bukan kau yang ada dihadapanku? Aku mencari sosokmu tapi tidak kutemukan. Kau benar-benar tidak peduli padaku ya?”

Aku masih terus menangis sambil memeluknya, sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan bodohnya itu. Tiba-tiba aku merasakan jemarinya membelai rambutku, dan tangan satunya yang memeluk pingganggku.

“Aku hanya bercanda. Aku tahu setiap hari kau selalu menungguiku. Ibu bilang kau sampai tidak makan dan terus duduk di samping tempat tidurku. Maafkan aku. Maafkan aku karena sudah membuatmu cemas.”

Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya. Aku menatapnya lama, dia juga sepertinya enggan memulai percakapan lagi, seolah menunggu sepatah kata yang keluar dari mulutku.

“Aku membencimu.” Aku sendiri kaget mendengar kata itu yang terucap dari bibirku.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau mengidap penyakit itu? Kenapa kau tidak pernah menunjukkan padaku kalau kau sebenarnya rapuh? Apa aku memang tidak pantas untuk mengetahuinya? Apa aku tidak pantas mengetahui rahasia terbesar dari dirimu? Apa aku memang tidak pantas.. bahkan untuk menjadi orang yang berarti bagimu?” Aku bisa merasakan tatapan sendunya, aku menunduk, air mataku seolah tidak ingin berhenti mengalir. Aku kembali terisak, bahkan sekarang aku sangat cengeng didepannya.

Tangan Junhyung meraih kedua pundakku dan menarikku ke pelukannya. “Aku minta maaf. Aku minta maaf padamu. Mohon maafkan aku. Aku sangat bersalah padamu. Tolong maafkan kesalahanku.” Tangisku kembali pecah. Aku hanya mengangguk pelan di dadanya.

“Kalau begitu jangan begitu lagi. Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau seperti itu lagi. Kau hampir membunuhku ketika tiba-tiba tidak sadarkan diri dan koma selama satu minggu lebih.” Aku bisa merasakan kalau dia sedang tersenyum sekarang. Aku merenggangkan pelukannya. Junhyung memegang pipiku dan menghapus air yang sejak tadi bermuara disana.

“Apa kau sudah sehat sekarang? Kau keluar kamar bahkan tidak menggunakan kursi roda. Kau masih lemah Junhyung~ah.” Dia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Aku sudah sehat. Aku mau jalan-jalan denganmu di taman rumah sakit sekarang.” Aku mengernyitkan alisku. “Kau tidak boleh jalan-jalan dulu sekarang!”

Hajima. Aku sangat rindu padamu. Aku ingin jalan-jalan denganmu sekarang. Aku mohon.” Aku berpikir sejenak, lalu mengiyakan permintaannya. Aku membantunya berjalan dengan memeluk pingganggnya, dan sebelah tangannya diletakkan di bahuku.

“Kita tidak pernah sedekat ini sebelumnya kan?” Aku mencubit pinganggnya, sekarang wajahku sudah merah. “Ouu sakit Chaeyeon~ah. Aku masih lemah sekarang.”

Aku mencibir, “Mentang-mentang kau sedang sakit, kau jadi manja hah? Tidak mempan untukku.” Dia hanya tersenyum lemah.

Setelah berjalan-jalan sebentar dan bersenda gurau, Junhyung lalu memberiku isyarat agar duduk di bangku yang terletak di pinggir taman, yang terlindung dari sinar matahari karena paying besar yang menutupinya. Aku mendudukkannya dengan pelan lalu ikut duduk disampingnya. Aku tersentak karena Junhyung tiba-tiba menyandarkan kepalanya dibahuku.

“Aku minta maaf karena tidak memberitahumu sebelumnya tentang penyakitku ini.” Aku tersenyum, “Kau sudah berulang kali minta maaf padaku Junhyung~ah, aku sudah memaafkanmu, jadi jangan minta maaf lagi.”

“Apa kau tahu kenapa aku tidak memberitahumu?” aku terdiam beberapa saat. “Waeyo?” Kataku akhirnya.

“Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir padaku.”

“Chaeyeon~ah aku sangat bersyukur ada kau disampingku, aku sangat menikmati ketika kita sedang bersama. Kau selalu saja membuatku tertawa, kau selalu bisa membuatku terhibur. Terima kasih karena sudah ada disampingku selama ini. Aku menyayangimu.” Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya sekarang. Aku bisa merasakan kalau dia tersenyum sekarang.

“Lagipula kalau kau tahu kau pasti jadi cerewet, kau hanya akan seperti ibuku.” Dia tertawa lemah, tapi aku tidak.

“Itu tidak lucu Yong Junhyung.” Dia kemudian terdiam lagi. Tiba-tiba hujan turun, aku menengadah melihat langit. Langit memang sudah gelap daritadi. Diam menyelimuti kami sekarang, hanya suara air hujan yang terdengar. Aku memerhatikannya dari sudut mataku. Apa aku katakan sekarang saja? Tidak ada waktu untuk menunggu sampai pengumuman tiba. Tes masuk perguruan tinggi saja belum. Aku menarik nafas pelan, memantapkan hati.

“Junhyung~ah, sebenarnya sejak lama aku memendam perasaan padamu. Sebenarnya aku menyukaimu. Entahlah sejak kapan, tapi aku benar-benar menyukaimu. Aku menyayangimu, aku… Jeongmal sarangheyo.” Kami terdiam beberapa detik.

“Jangan tertawa!” Aku bisa merasakan wajahku memerah sekarang. RAsanya jantungku seperti mau melompat keluar. Tapi Junhyun malah diam saja.

“Junhyung~ah jangan pura-pura tidak mendengarku. Aku tahu kau tidak tuli.” Tapi lagi-lagi hanya suara hujan yang terdengar di sekelilingku. “Junhyung~ah.” Aku menggoyang-goyangkan bahuku. Lalu tiba-tiba kepala Junhyung hampir jatuh kedepan kalau tidak aku tahan. Aku terkejut, keresahan mengelayutiku lagi.

“Junhyung~ah, Junhyung~ah.” Aku mengguncang-guncangkan bahu Junhyung, tapi tetap tidak ada tanggapan. Air mataku menetes lagi, aku dilanda panic luar biasa sekarang. “Junhyung~ah, jangan mempermainkanku!” “Junhyung~ah, Junhyung~ah.” Tapi lagi-lagi hanya suara air hujan yang terdengar.

***

Aku masih berdiri di samping pusara itu. Tidak memperdulikan walaupun tubuhku kini basah kuyup karena hujan yang tak kunjung berhenti. Sungguh tidak ingin beranjak dari sini, aku masih ingin menemaninya. Yong Junhyung. Pria yang aku sayangi. Pria yang aku cintai dengan segenap hatiku. Pria pertama dalam hidupku. Pria yang bahkan sampai akhir hayatnya mungkin tidak tahu bahwa aku begitu menginginkannya. Begitu mencintainya.

“Junhyung~ah neol saranghamnida. Jeongmal saranghamnida.”

END

Vocab:

Otteohke?= Bagaimana?

Aniyo. Amugotdo ani= Tidak, tidak ada apa-apa

Na baboya. = Aku bodoh

na jeongmal gwaenchana= saya benar-benar tidak apa-apa

Neo michyeoseo? = apa kau gila?

Arasseo= saya mengerti

Yaa~ neo micheoseo ? = Hei apa kau gila?

Jinjayo?= benarkah?

wae geure? = ada apa?

Omoni = ibu [formal]

Hajima.= jangan begitu

Waeyo?= kenapa?

Jeongmal sarangheyo= aku sangat mencintaimu

neol saranghamnida= aku mencintaimu

Read More

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Please Forgive Me Jagi~


Oke aku datang membawa FF baru lagi nih,, mudah-mudahan aja ceritanya gak gaje yahh... yang baca kritik ato saran boleh? :) Jan lupa comment juga kalo suka yah ^^


Tittle: Please Forgive Me Jagi~
Genre: Romance
Length: Longshoot
Cast: SHINee
Park Minra
Shin Risung
Shin Eunhwa
Kim Soyeon

Aku menyeruput teh camomileku yang sudah dingin. Kulirik jam yang melingkar di tanganku, kemudian menengadah melihat jam besar yang bertengger di dinding. Yup, aku sudah hampir dua jam menunggu disini, dan dia belum kelihatan juga! Teriakku dalam hati. Lima menit lagi dia belum muncul, aku pulang! Aku melipat kedua tanganku sambil memandang ke luar, café ini dindingnya terbuat dari kaca sehingga memudahkanku mengakses pemandangan yang ada di luar. Aku melirik jam tanganku lagi. Oke aku pulang!

***

Soyeon’s POV

“O, kau sudah pulang onnie?” Jelas sekali Minra onnie menghempaskan tubuhnya dengan kasar disampingku, aku mengernyitkan alisku, bingung.

“Apa yang terjadi? Kau terlihat kusut sekali onn.” Aku menutup majalah yang ada dipangkuanku.

“Kalau Kibum mencariku, bilang saja kalau aku tak ada di rumah. Dan jangan tanya kenapa!” Minra onnie langsung bangkit dari tempatnya dan berjalan memasuki kamarnya. Brak! Aku sedikit terkejut karena Minra onnie menutup pintu kamarnya dengan kasar, tepatnya membanting pintu kamarnya dengan kasar.

“Suara apa itu?” Eunhwa onnie yang sedang mencuci piring didapur saja sampai tergesa-gesa berlari keluar masih sambil mengenakan sarung tangannya.

“Minra onnie membanting pintu kamarnya. Dia baru saja tiba dan langsung mengatakan padaku ‘Kalau Kibum mencariku, bilang saja kalau aku tak ada di rumah. Dan jangan tanya kenapa!’” aku meniru gaya bicara Minra onnie.

“Kibum? Hhh pasti ada masalah lagi. Sudahlah, kita tak usah ikut campur masalah mereka.”

“O, Risung onnie belum pulang? Hhh kemana dia?”

“Tadi dia keluar bersama Onew oppa, katanya Onew oppa baru saja menerima honornya karena menjadi MC. Tadi aku sudah menghubunginya, katanya dia sementara di jalan.”

“Begitu, ya sudah. Lalu kenapa kau belum tidur? Besok kau harus sekolah, sana tidur. Biar aku yang menunggu Risung onnie.”

“Ne, ara. Aku tidur sekarang. Jaljayo.” Aku meletakkan majalahku di meja dan berjalan dengan lunglai ke kamar.

***

Author’s POV

“Onnie tadi Key menelponku menanyakan kabarmu padaku. Apa kalian sedang bertengkar? Katanya kau tidak mau menjawab telponnya.” Kata Risung sambil mengunyah makanannya, saat ini mereka semua sedang sarapan pagi.

“Tidak boleh makan saat sedang bicara.” Jawab Minra pendek. Yang lain langsung menghentikan aktifitas mereka dan saling berpandangan satu sama lain dengan heran. Risung onnie kambuh lagi, sudah jelas, pasti dia sedang bertengkar dengan Key oppa. Batin Soyeon dalam hati.

“Umm, onnie, mungkin maksudmu, tidak boleh bicara saat sedang makan.” Kata Eunhwa memecah keheningan, Risung dan Soyeon malah tampak berusaha menyembunyikan tawa mereka. Minra lalu menatap tiga dongsaengnya itu bergantian kemudian berdiri dari tempat duduknya.

“Aku sudah selesai.” Minra kemudian berjalan ke ruang tengah dan menyalakan TV.

“Tuh kan, onnie pasti sedang ada masalah dengan Key oppa.” Eunhwa memulai rapat dadakan di meja makan.

“Iya, kemarin juga onnie nyebut Key oppa Kibum. Jelas kan, itu berarti dia lagi berantem sama Key oppa.”

“Betul. Trus bagaimana? Aku tidak nyaman dengan sifatnya Minra onnie yang seperti itu. Nyebelin juga.”

“Kalau kita tanya Key oppa saja bagaimana? Aku nggak mau ada di dekat Minra onnie sekarang, bahaya.” Kata Soyeon sambil melirik Minra yang ada di ruang tengah.

“Joha! Kita tanya Key oppa saja. Jadi, kita ke dorm SHINee?” Eunhwa memandang onnie dan dongsaengnya itu bergantian.

“Ya!” Jawab Risung dan Soyeon bersamaan, tampak sekali kalau mereka kegirangan.

***

“Loh, kenapa kalian datang pagi-pagi? Jagi, ada apa?” Onew yang membukakan pintu bertanya pada Risung, yeojachingunya.

“Ini penting oppa. Keadaan darurat!” Kata Risung serius.

“Wae geure?” Kali ini Jonghyun yang muncul.

“Sudahlah jangan banyak tanya dulu oppadeul. Kami kesini mencari Key oppa. Mana dia?” Eunhwa langsung masuk, mendorong Jonghyun dan Onew ke samping agar membukakan jalan. Yang lain lalu mengikutinya.

“Oppa.” Soyeon mendapati Key dan Taemin yang sedang makan buah di meja makan, mereka bertiga lalu mengambil tempat di sampingnya. Risung malah menyuruh Taemin menyingkir dan mengambil tempatnya, kini Key di kelilingi tiga yeoja cantik itu.

“Yaa yaa yaa, Ige mwoya? Kenapa kalian mengerubungiku?” Key tampak kebingungan sekali. Kemudian Jonghyun dan Onew bergabung bersama Taemin yang sedang berdiri di samping tiga yeoja itu.

“Oppa, apa kau membuat Risung onnie marah?” Eunhwa yang pertama mewawancarai Key.

“Apa yang kau lakukan? Kami semua yang kena getahnya di rumah tahu.” Risung menambahkan.

“Oppa, kau apakan Risung onnie sampai dia galak begitu?” Soyeon ikut menimpali.

“Yaa yaa satu-satu kalau kalian ingin bertanya. Aku bingung mau jawab yang mana.”

“Jawab saja semuanya!” Risung, Eunhwa dan Soyeon malah membentaknya. Onew, Jonghyun dan Taemin hanya tertawa melihat Key yang tidak berkutik. Minho kemudian keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang bertengger dikepalanya, tampaknya dia baru saja selesai mandi, rambutnya basah karena habis keramas. *Author mimisan*

“Eh? Ada apa ini? Kenapa mereka bertiga ada di sini?” Tanya Minho pada Onew.

“Sstt, diam dan lihat saja. Kami juga masih belum tahu apa yang terjadi.”

“Oppa jawab.” Eunhwa menggoyang-goyangkan lengan Key, tampak tidak sabar.

“Oke oke, aku jawab.”

“Aku juga bingung. Minra tiba-tiba tidak mau mengangkat telponku dan membalas pesanku. Makanya aku menanyakan kabarnya padamu tadi.” Key menunjuk Risung.

“Yaa, masa kau tidak tahu apa yang terjadi? Jinja! Otteokhae? Minra onnie itu serem sekali kalau sedang marah.” Ucap Risung uring-uringan.

“Coba ingat-ingat lagi oppa. Kau mungkin sudah membuat Minra onnie marah! Kemarin saja dia menyebutmu ‘Kibum’ bukan ‘Key’.” Eunhwa semakin mendesak Key.

“Kibum? Dia memanggilku Kibum? Apa yang dia katakan?” Tanya Key semakin khawatir.

“‘Kalau Kibum mencariku bilang aku tak ada. Dan jangan tanya kenapa!’ dia mengatakan itu padaku kemarin setelah dia pulang.” Ucap Soyeon sambil mengikuti dan meniru gaya Minra.

“Oje? Setelah dia pulang? Kemarin dia darimana?” Key tampak semakin bingung.

“Yaa!! Bukannya kemarin kau pergi bersama Minra onnie??” Mata Risung kini melotot pada Key, seperti hendak menelannya bulat-bulat.

“Mwo? Astaga! Benar! Seharusnya kemarin aku pergi menemuinya di café. Jadi itu yang membuatnya marah.” Key hanya menggaruk-garuk kepalanya.

“MWORAGO?????” Risung, Eunhwa dan Soyeon berteriak bersamaan.

“Hyung, kau tega sekali.” Minho akhirnya buka suara.

“Yaa!! Jadi kemarin kau tidak menemui Minra onnie?? Jadi kemarin Minra onnie menunggumu sendirian di café itu?? Dan kau sama sekali tidak tahu itu??? Kau melupakannya oppa????” Gantian Eunhwa kini yang hendak menelan Key bulat-bulat.

“Bu-bukan begitu. Aku sama sekali tidak ingat, sumpah. Aku juga tidak tahu kenapa bisa lupa begitu.”

“Oppa kau tega sekali!!” Soyeon kini melempari Key dengan kulit jeruk, apel dan buah lainnya yang ada di meja.

“Aishhh jeongmal paboya. Wajar saja kalau Minra onnie sampai murka begitu!” Kata Risung terlihat kecewa.

“Key, kau laki-laki tidak bertanggung jawab.” Onew mengalungkan kedua tangannya di leher Risung, ikut-ikutan mengatai Key yang semakin terpojok.

“Yaa yaa aku sama sekali tidak bermaksud begitu.”

“Hhh aku tidak menyangka kau sekejam itu oppa. Kalian kan sudah beberapa hari tidak bertemu, kalau Minho yang melakukannya aku juga pasti tidak akan memaafkannya.” Eunhwa menatap sinis pada Key.

“Yaa kenapa malah bawa-bawa kita jagi~ya? Aku tidak akan melakukannya, aku mana bisa membiarkanmu menunggu selama itu?” Eunhwa langsung tersenyum mendengar ucapan Minho.

“Jinjayo?”

“Ne, tentu saja bodoh.” Minho mencubit pelan pipi Eunhwa *>//<*

“Yaa yaa kenapa kalian melakukan ini padaku?”

“Melakukan apa? Kau yang tega melakukan itu pada Minra noona.” Kata Taemin yang baru buka suara.

“Sekarang kau juga ikut-ikutan hah?”

“Yaa kenapa kau malah membentak Taeminnie? Itukan salahmu!” Ujar Onew membela Taemin.

“Oppa sekarang kau harus minta maaf pada Minra onnie. Bagaimana pun caranya! Aku tidak suka dengan Minra onnie yang galak begitu.” Kata Soyeon setelah meminum air yang diberikan oleh Jonghyun.

“Benar, kau harus meminta maaf pada Minra onnie!” Risung bangkit dari tempatnya.

“Eunhwa~ya, Soyeon~ah kita pulang saja sekarang. Kita kan sudah tahu penyebab onnie uring-uringan. Kasian onnie sendirian di rumah.”

“Joha.”

“Ne, kajja.”

“Changkanman. Minra sedang di rumah? Sendirian?” Key menahan tiga yeoja yang sudah mau pergi itu.

“Geure. Waeyo?

“Biarkan aku yang ke rumah kalian, biarkan aku berdua dengannya. Aku akan minta maaf padanya.”

“Kau yakin? Sekarang Minra onnie sedang tidak baik.” Risung mencoba meyakinkan Key.

“Yeah, aku harus meminta maaf padanya segera.”

“Terserah padamu, jadi kita akan kemana?” Tanya Eunhwa pada Risung dan Soyeon.

“Kemana? Kenapa tidak disini saja? Kita bisa nonton dvd atau lainnya. Ini masih pagi jagi.” Kata Jonghyun sambil merangkul Soyeon.

“Baiklah kalau begitu, kita di sini saja.” Kata Risung akhirnya.

“Oke. Aku akan pergi, doakan aku selamat.” Kata Key sambil mengambil kunci mobilnya.

“Good luck oppa.” Kata Eunhwa menyemangati.

“Hwaiting hyung.” Kata Taemin juga. Ada hening beberapa detik saat Key menutup pintu rumah, mereka semua saling berpandangan.

“Baiklah, aku akan menyiapkan makanan kecil.” Kata Eunhwa memecah keheningan lalu segera ke dapur.

“Aku akan membantunya.” Minho kemudian menyusul Eunhwa ke dapur juga.

“Taemin~ah kau kesini juga.” Eunhwa tiba-tiba berteriak dari arah dapur setelah beberapa saat.

“Jagi~ya, kenapa kau memanggil Taemin?”

“Kau menggangguku terus! Taemin~ah cepat kesini.”

“Ne noona.” Taemin mengangkat bahunya kepada empat pasang mata yang sedang melihatnya dan berjalan ke dapur.

“Hahaha dasar Minho. Sebaiknya kita juga cepat membersihkan ruang tengah ini kemudian memilih filmnya” Kata Onew membuka suara.

“Setuju. Ayo bergerak.”

***

Park Minra’s POV

“O, kalian sudah pulang. Kalian darimana saja? Teganya kalian…” Ucapanku terpotong melihat sosok namja yang berdiri di pintu. Aku menatapnya sebentar, kemudian berdiri sambil melipat majalah yang sedang aku baca.

“Untuk apa kau ke sini? Pulanglah, aku tak ingin melihatmu.” Ucapku ketus, aku melangkahkan kakiku memasuki kamar.

“Tunggu tunggu, Minra~ya tolong beri aku kesempatan bicara dulu.” Key berlari ke arahku dan menahan lenganku.

“Tidak ada yang perlu kau katakan. Pergilah, kau pasti punya kesibukan lain yang lebih penting daripada aku.” Kataku tanpa melihat Key.

“Lihat, kau saja tidak mau melihatku lagi. Aku tahu aku salah, kemarin aku ada pemotretan, entahlah kenapa aku bisa lupa dengan janji kita. Tapi aku benar-benar khilaf, aku sangat menyesal.”

“Ini bukan pertama kalinya kau melupakan janji kita Kibum. Ini sudah ke tiga kalinya kau membuatku menunggu seperti orang bodoh. Entahlah, mungkin aku memang bukan orang penting bagimu.” Aku menepis tangan Key dan berjalan ke kamar.

“Minra~ya aku mohon. Kau bahkan memanggilku Kibum, aku tahu kau sangat marah. Aku sangat menyesal, tolong maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”

“Ini juga yang ketiga kalinya kau mengucapkan itu.” Aku menatapnya, kemudian masuk ke kamarku meninggalkannya sendirian.

***

Author’s POV

“Danyeo waseumnida.” Key terlihat lesu memasuki dorm SHINee. Dia melihat tujuh pasang mata yang sedang menatapnya menanti pernyataannya. Key mendesah nafasnya berat dan berjalan pelan menuju sofa, duduk di samping Soyeon.

“Bagaimana? Apa yang dikatakan Minra onnie padamu?” Kata Risung sambil mengecilkan volume televisi.

“Katanya dia tidak mau melihatku. Argghhh bodoh bodoh bodoh!! Kenapa kemarin aku bisa selupa itu???” Sekarang Key mengutuk dirinya sendiri, tampak sekali kalau dia benar-benar menyesal.

“Poor, oppa. Yang sabar oppa, syukurlah kau tidak di apa-apakan Minra onnie.” Soyeon menepuk-nepuk pundak Key.

“Sudah kuduga. Kali ini onnie pasti tidak akan memaafkanmu oppa, ini sudah yang kedua kalinya kau membuatnya menunggu seperti itu. Tidak menyenangkan sekali tahu menunggu lama begitu.” Ucap Eunhwa yang bersandar di kaki sofa sambil melipat kedua kakinya.

“Ini yang ketiga kalinya.” Ucap Key lirih.

“Mwo? Tiga kali? Aishh benar-benar kau hyung.” Minho melempari Key dengan bantal yang sedang di peluknya.

“Kalau begitu wajar onnie sangat marah padamu!” Risung mengembalikan posisi duduknya seperti semula dan mulai mencomot makanan yang ada di depannya, terlihat cuek.

“Apa yang harus aku lakukan supaya Minra mau memaafkanku? Aku benar-benar putus asa.” Ucap Key lirih sambil mengacak-acak rambutnya.

“Mollayo.” Kata Eunhwa cuek juga. “Omona, onnie sepertinya kita harus pulang sekarang. Berarti sekarang moodnya Minra onnie bertambah parah karena Key oppa. Aku tidak mau kena omelannya lagi, kita sudah pergi terlalu lama.” Sambung Eunhwa tiba-tiba.

“Kau benar. Kajja kita pulang sekarang.” Risung segera bangkit dan mencari tasnya, diikuti Eunhwa dan Soyeon.

“Jagi, kalian sudah mau pulang? Baiklah, hati-hati di jalan yah. Kabari aku kalau Minra melakukan sesuatu padamu.” Kata Onew sambil menyerahkan tas Risung yang terletak di sebelahnya.

“Hehe onnie tidak akan melakukan sesuatu yang buruk pada kami, kau kira dia penjahat? Baiklah, kami pulang ya, annyeong gaseyo.”

“Ne, annyeong gyeseyo.”

***

“Onnie kau jangan marah lagi ya, aku tidak nyaman dengan kau yang begini. Ini sudah hari yang keempat, mestinya moodmu sudah baikan sekarang.” Ujar Eunhwa pelan, saat ini dia sedang berbaring telungkup di ranjang Minra. Sedang Minra sementara menulis sebuah cerita dalam laptopnya di meja samping tempat tidur. Dia memang sangat senang menulis kalau waktunya sedang kosong.

“Jinjayo? Sudah empat hari? Apa aku terlihat menyeramkan?” Minra menurunkan sedikit kacamata yang bertengger dihidungnya. Eunhwa mengangguk pelan.

“Ne. Soyeon dan Risung onnie juga merasakan hal yang sama denganku. Apa kau tidak bisa memaafkan Key oppa?” Tanya Eunhwa hati-hati, dia sangat tidak ingin membuat marah onnienya itu.

Minra mendesah nafasnya pelan. Kemudian menatap Eunhwa lembut.

“Sebenarnya aku ingin Eunhwa, tapi aku sudah terlanjur sangat kecewa padanya. Ini sudah dilakukannya tiga kali, aku tidak bisa mentolerirnya lagi. Aku sangat tidak menyukai sifatnya yang tidak bertanggung jawab begitu. Dia yang mengajakku, Tapi malah dia yang melupakannya. Aku malah sempat berpikir kalau sepertinya kami…” Minra menunduk, dia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

“Onnie inikan hanya masalah keterlambatan, kau tidak mungkin memutuskannya hanya karena dia lupa dengan janji kencan kalian kan?”

“Ini bukan hanya masalah lupa atau apa. Ini masalah komitmen, kau tahukan kalau onnie serius dalam menjalani hubungan. Onnie tidak akan mau kalau dia hanya bermain-main saja, lebih baik untukku kalau terluka sekarang daripada nanti lebih sakit lagi.”

“Baiklah, aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Aku hanya mau bilang, kalau aku tahu bahwa Key oppa sangat menyayangimu, dia tidak ingin kehilangan kau onnie. Dan aku yakin kau tahu itu.” Eunhwa melipat kakinya dan meraih boneka cokelat pink yang terbaring di ranjang, pemberian Key oppa pada Minra onnie dulu. Minra terlihat merenung beberapa saat.

“Onnie bagaimana kalau malam nanti kita ke restaurant? Kita kan sudah lama tidak makan malam bersama.”

“Mmm, ide yang bagus. Apa kita harus mengajak manager onnie?”

“Tidak, ini untuk kita berempat saja. Pakai pakaian yang formal yah, anggap saja perayaan setelah Minra onnie sembuh dari uring-uringannya. Hahaha.” Kata Soyeon tiba-tiba yang sudah muncul dari balik pintu. Dia kemudian memasuki kamar diikuti Risung.

“Apakah harus seperti itu? Kalian berlebihan.”

“Aniyo. Harus seperti itu. Ya onnie ya.” Kali ini Risung yang membujuk Minra.

“Baiklah, terserah mau kalian saja.”

***

“Onnie aku suka melihat kau mengenakan gaun itu. Neomu yeppuda..” Kata Soyeon saat turun dari mobil, mereka baru saja tiba di parkiran restauran.

“Haha benarkah? Gomawo, kau juga terlihat cantik mengenakan gaun itu.”

“Onnie kau masuk duluan saja bersama Soyeon, aku akan menemani Risung onnie memarkir mobil dulu.” Kata Eunhwa yang masih duduk di jok samping pengemudi.

“O, baiklah. Hati-hati ya.” Minra dan Soyeon memasuki restaurant lebih dulu. Tetapi saat hendak memasuki ruangan Soyeon tiba-tiba menghentikan langkah Minra.

“Onnie sepertinya aku harus ke kamar mandi sebentar. Kau masuk saja duluan, aku tidak akan lama. Sebut saja namamu pada petugasnya, Risung onnie sudah memesankan tempat untuk kita atas namamu.

“Kau ini. Ya sudah sana cepat. Jangan lama-lama.” Soyeon kemudian berbelok ke arah kanan, sedangkan Minra tetap berjalan lurus.

“Park Minra.” Ucap Minra pada seorang petugas yang berdiri di pintu restaurant itu.

“Oh, silahkan ikut saya.” Kata petugas itu ramah, Minra kemudian mengikutinya. Apa sedang ada perayaan di sini? Batin Minra dalam hati, restaurant itu dipenuhi dengan balon-balon di sudutnya, juga ada beberapa mawar yang di tata anggun dari pintu masuk. Minra kemudian menyadari sesuatu, hanya dia yang ada di restaurant itu, dan beberapa pelayan tentunya. Apa tiga anak itu sampai repot-repot menyewa restaurant ini untuk kami? Minra tertawa pelan sambil masih mengedarkan pandangannya menyapu dekorasi restaurant itu. Tiba-tiba petugas itu berhenti di sebuah meja yang sudah dihuni(?) oleh seorang namja. Minra terlihat bingung pada petugas itu.

“Anda mungkin salah menunjukkan meja. Atas nama Park Minra, meja yang mana?”

“Yang ini agisshi.” Petugas itu menunduk kemudian pergi meninggalkan Minra yang menatapnya tak percaya.

“Apa-apaan ini?” Kata Minra hampir seperti bisikan sambil bergantian melihat namja yang duduk membelakanginya dan petugas yang berjalan kedepan itu. Kemudian namja tadi berdiri dan menghadap ke arah Minra. Minra sampai dua kali menolehkan kepalanya karena tidak menyadari namja itu adalah dia.

“Kau?”

“Ya, ini aku.” Minra langsung berbalik, sebisa mungkin menghilang dari tempat itu, namun Key menahan tangannya.

“Minra~ya aku mohon jangan pergi dulu. Izinkan aku bicara.” Minra berusaha menghempas tangan Key tetapi ternyata genggamannya begitu kuat.

“Sekali ini saja. Jebal.” Setelah terdiam beberapa saat Minra akhirnya luluh juga.

“Apa yang mau kau katakan?” Katanya sambil memandang Key.

“Duduklah dulu, kita bicara sambil duduk.”

“Tidak perlu, katakan saja apa yang mau kau katakan.”

“Ohya, apa Risung, Eunhwa dan Soyeon termasuk dalam semua ini?”

“Kau jangan menyalahkan mereka, semua ini aku yang merencanakannya. Aku juga sampai memohon pada mereka agar mereka mau membantuku. Tolong jangan salahkan mereka.”

“Baiklah, ini semua perbuatanmu. Jadi apa yang mau kau katakan? Cepatlah.” Kata Minra ketus.

“Dengar, aku sangat menyesal karena kejadian empat hari yang lalu. Sumpah, aku tidak berniat melakukannya. Aku ketiduran di mobil sehabis pemotretan itu, dan baru bangun malamnya.”

“Saat aku sudah di rumah.” Minra tersenyum sinis.

“Aku minta maaf padamu Minra~ya, aku benar-benar tidak bermaksud melakukannya.” Kata Key sambil mengangkat tangannya, mencoba terlihat bersungguh-sungguh.

“Kau tahu aku sangat tersiksa tidak mendengar kabarmu sama sekali selama empat hari. Aku yakin kau tahu itu, kau tahu kalau aku tidak bisa kalau tidak menghubungimu semenit saja.” Minra hanya terdiam dikursinya sambil melipat kedua tangannya. Dia sama sekali tidak melihat Key.

“Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi. Ini janji terakhirku. Aku mohon maafkan aku.”

“Kau sudah tiga kali mengatakan itu dan sudah tiga kali pula kau mengatakan kalau kau menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi, entah aku bisa percaya padamu lagi atau tidak.”

“Kau tahu, lama-lama aku jenuh dengan sifatmu yang seperti itu.” Minra menatap mata Key, kemudian mengalihkan pandangannya lagi. Dia tidak pernah kuat kalau harus menatap Key dalam situasi kacau seperti itu.

“Minra~ya aku mohon maafkan aku. Aku sangat-sangat menyesal.”

“Onnie, maafkan saja Key oppa. Dia sangat menyesal atas perbuatannya.” Tiba-tiba Soyeon dan yang lainnya sudah ada di belakang Minra.

“Kalian? Sekarang kalian berada di pihaknya juga?” Tanya Minra tak percaya.

“Onnie apa kau tega melihatnya memohon padamu terus seperti itu?” Gantian Eunhwa yang bicara.

“Apa? tega? Apa dia tega melihatku menunggu selama dua jam di café itu?”

“Tentu saja tidak. Dia sangat menyesal sudah melakukan itu padamu. Dia sampai tidak nafsu melakukan apa-apa di rumah.” Onew juga membela Key.

“Hah, terus saja kalian membelanya.” Minra melemparkan pandangannya ke tempat lain.

“Apa kau tidak merindukan Key juga noona? Key hyung sangat merindukanmu, dia gelisah terus tidak pernah mendengar kabarmu selama empat hari. Aku sampai jengkel dibuatnya.” Taemin juga ikut menimpali.

“Mwo? Apa kalian masih bisa mengatakan hal itu di situasi seperti ini?” Minra berusaha menyembunyikan semburat merah di wajahnya.

“Onnie kau jangan egois dulu sekarang. Aku tahu kau juga sangat merindukan Key oppa. Kau terus-terusan memeluk boneka cokelat pink pemberiannya.” Minra langsung menoleh mendengar ucapan Eunhwa.

“Benarkah itu?” Key melihat Eunhwa kemudian kembali menatap Minra.

“Minra~ya benar kau merindukanku juga?” Tanya Key sambil tersenyum, jelas sekali dia sangat girang mendengarnya. Tapi Minra malah menolehkan pandangannya, menghindari tatapan Key.

“Yaa yaa, Minra~ya, kau benar merindukanku juga? Aku tahu kau juga pasti merindukanku.” Key meraih tangan Minra dan menggenggamnya. Tapi Minra malah melotot pada Key.

“Minra~ya aku mohon maafkan aku. Aku berjanji, sumpah, aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Aku tidak akan membiarkan kau menunggu seperti itu lagi. Tolong maafkan aku.” Key menatap mata Minra dalam sambil masih menggenggam tangannya dengan lembut. Minra membalas menatap Key terlihat menimbang-nimbang.

“Kau tidak akan mengulanginya lagi untuk yang keempat kalinya?” Minra menekan kata-katanya.

“Ya, aku tidak akan mengulanginya.”

“Kau tidak akan lagi membiarkan aku menunggu seperti orang bodoh berjam-jam?”

“Ya, aku yang akan menunggumu.”

“Kau tidak akan pernah melakukannya lagi padaku?” Minra menekan tiap kata-katanya kali ini.

“Ya, aku tidak akan melakukannya lagi, aku tidak akan pernah membuatmu menunggu lagi. Aku berjanji tidak akan pernah membuatmu kesal lagi.” Minra menatap Key beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Kau memaafkanku?” Minra mengangguk lagi.

“Kau sudah tidak marah padaku lagi?” Minra mengangguk untuk yang ketiga kalinya.

“Jeongmal?”

“Key!” Kata Minra kesal.

“Hahaha kau sudah memanggilku Key lagi.” Key memeluk Minra seketika, wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat senang sekaligus lega Minra sudah memaafkannya.

“Awas kalau kau mengulanginya lagi. Kau tidak akan selamat!”

“Ne ne, aku tidak akan mengulanginya lagi. Jagi~ya kau benar merindukanku juga kan?” Minra langsung melepas pelukan Key.

“Kau tak perlu menanyakan hal itu!” Semburat merah muncul kembali di wajah Minra.

“Aku hanya mau tahu. Kau tahu kalau aku sangat merindukanmu. Apa kau merindukanku juga?” Minra terdiam beberapa saat.

“Ne, aku sangattttt merindukanmu. Kau puas?” Wajah Minra kini sudah seperti buah tomat. Key memeluknya lagi dengan lembut.

“Aku tahu kok, aku hanya mau memastikannya dari bibirmu saja. Jeongmal bogoshipo jagi~ya. Aku tidak akan membuatmu marah lagi, aku kapok.” Mereka tertawa pelan.

“Hey aku lapar!” Kata Minho tiba-tiba.

“Tunggu sebentar lagi. Aku belum puas memeluk yeoja ini, dia sudah membuatku hampr gila beberapa hari terakhir.”

“Na? itu karena ulahmu sendiri tahu!”

“Iya, itu memang salahku.”

“Hey, sudah lepaskan aku. Aku juga lapar.” Minra berusaha melepas pelukan Key tapi sia-sia saja.

“Lima detik lagi. Oke sudah.” Kata Key lalu melepas pelukannya, dia tersenyum polos pada Minra. Minra juga membalas tersenyum.

“Kau ini.”

“Aku senang kau sudah tersenyum lagi padaku jagi~ya.” Key mencubit hidung Minra.

“Aku sudah lapar, ayo kita makan saja.”

“Baiklah.” Kata Key sambil menarik kursi untuk Minra.

“By the way kau sangat cantik malam ini. Sayang kau berdandan bukan untukku.”

“Apa yang kau katakan? Ada-ada saja. Kalian tidak mau makan?” Kata Minra bergantian pada Key dan penonton yang ada di depannya sekarang.

“Apa dramanya sudah selesai?” Kata Jonghyun sinis.

“Tsk, kalian ini benar-benar. Kami yang sudah membantu kalian, tapi kalian menganggap seolah-olah dunia hanya milik kalian berdua. Jinja.” Kata Risung menimpali.

“Yaa apa kalian cemburu pada kami? Kami pasangan serasi kan?” Kata Key sambil menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Minra.

“Apa yang kau lakukan?” Kata Minra sambil menyingkirkan wajah Key.

“Ani, kami sangat berterima kasih pada kalian. Jeongmal gamsahamnida.”

“Ne, chonmaneyo onnie. Berarti kalian kan yang traktir, ayo kita makan.” Kata Eunhwa diikuti sorakan yang laen, mereka langsung mengambil tempat masing-masing.”

“Mwo? Kami yang bayar?”

“Baiklah, gwaenchana jagi~ya. Aku sedang senang sekali saat ini, jadi biar aku yang mentraktir mereka.” Kata Key semangat.

“Jinjayo? Kau tak mau kalau kita berdua patungan saja?” Tanya Minra meyakinkan Key.

“Ne. Kau tak perlu kuatir, aku yang akan membayar semuanya.”

“Baiklah.” Kata Onew sambil memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan mereka.

“Pesan semua makanan yang paling enak disini.” Kata Onew santai.

“Yaa yaa hyung!”

“END”

Onnie= kakak (cewek to cewek)

Ne= iya

Ara= aku mengerti

Jaljayo= selamat tidur

Joha= baiklah

Oppa= kakak (cewek to cowok)

Wa geure?= ada apa?

Yaa= hei

Ige mwoya?= apa ini?

Hyung= kakak (cowok to cowok)

Yeoja= perempuan

Namja= laki-laki

Waeyo?= kenapa?

Geure= benar

Jinja= benar-benar

Otteokhae?= bagaimana?

Mwo?= apa?

Mworago?= Apa kau bilang?

Jeongmal paboya= benar-benar bodoh

Jagi, jagi~ya= panggilan sayang

Oje= kemarin

Noona= kakak (cowok to cewek)

Kajja= ayo pergi

Changkanman= tunggu

Hwaiting= semangat

Danyeo waseumnida= aku pulang

Mollayo= entahlah

Omo, Omona= astaga

Annyeong gaseyo= selamat jalan (orang yang dipamiti)

Annyeong gyeseyo= selamat jalan (orang yang pamit)

Aniyo= tidak, bukan

Neomu yeppuda= sangat cantik

Na?= saya?

Agisshi= nona

Jebal= aku mohon

Jeongmal? = Sungguh?

Jeongmal bogoshipo= aku sangat merindukanmu

Jeongmal gamsahamnida= terima kasih banyak

Chonmaneyo= sama-sama (balasan terimak kasih)

Gwaenchana= tidak apa-apa

Read More

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS